Kusandarkan punggungku ke sandaran kursi kerjaku. Kulepaskan kacamataku, kemudian kuusap lensanya dengan kain pembersih lensa. Penat sudah matakumelihat susunan angka-angka yang masih terpampang dilayar komputer di atas meja kerjaku.Jam dua belaskurang sepuluh menit, itu yang ditunjukan oleh jam tanganku. Pantas saja ruangan tempat aku kerja sudah terasa sepi. Ruangan ukuran sekitarseratus meter persegi yang dihuni sebelaspekerja ini tinggal menyisakan tiga orang saja termasuk aku. Lainnya pasti sudah berhamburan untuk makan siang di luar kantor atau menuju tempat ibadah."Ran, elo makan siang dimana?", suara Mbak Dewi yang duduk jeda dua meja sebelah kiriku.Mbak Dewi ini usianya lebih tua tiga tahun dariku. Kami seangkatan masuk kerja, dan sama-sama ditempatkan di unit anggaran kantor pusat sebuah BUMNbidang jasa transportasi."Kayanya makan di rumah nyokapdeh Mbak. Sekalian ambillaundry-an juga", jawabku."Mbak Dewi sendiri makan siang di mana?"tanyaku. "Ngga tau nih bingung. Paling mentoknanti nitip aja ke yang makan di luar",balas Mbak Dewi.Kupakai kembali kacamataku. Kemudian kusiapkan barang-barangseperlunya yang akan akubawa. Dompet, handphone, dan kunci mobil. Ya, cukup ini aja yang perlu akubawa. Akupunsengaja tidak mematikan komputer kerjaku karenaaku tidak bermaksud belama-lama keluar kantor.Aku bangkit dari tempat dudukku. "Guejalan dulu ya Mbak", pamitku ke Mbak Dewi."Ok", jawab Mbak Dewi singkat.Kulangkahkankakiku ke luar ruangan menuju lift. Ruangan tempatku kerja ada di lantai empat dari keseluruhan enam lantai gedung ini. Kulihat ada tiga orang menunggu di depan lift. Mereka semua teman-temanku tapi dari unit yang berbeda, walaupun masih dalam satu direktoratyaitu keuangan. Tampak pintu lift pun terbuka, kupercepat langkah kakiku, karena jarak ke pintu lift masih sekitar lima meter.Setelah berbasa basi ringan denganteman-temanku di lift, kami pun tiba di lantai dasar dan pintu lift pun terbuka.Cuaca sepertinya sedang sangat panas, ini terasa begitu pintu lobby gedung terbuka. Dengan langkah cepat aku langsung menuju parkiran sambil mengingat di mana mobilkutadi pagi aku parkir. Kututupi atas kepalaku dengan tangan kiri, lumayan mengurangi teriknya matahari langsung menghujam kepalaku.Akupun buru-buru masuk ke mobilku. Segera kunyalakan mobil dan memposisikan tombol AC ke yang palingtinggi. Sambil menunggu mobilku siap dijalankan, aku sempatkan menelepon suamiku, Doni,hanya sekedarmenanyakan kabarnya dan memberitahukannya kalau aku akan ke rumah orangtuaku. Tidak lupa juga kutelepon rumahku untuk menanyakan kepada baby sitter keadaananakku. Setelah yakin semuanya baik-baik saja, aku langsung kemudikan mobilku menuju rumahorangtuaku.Rumah orangtuaku tidak jauh lokasinya dari kantor tempatku kerja. Hanya sekitar delapan ratus meter. Orangtuaku menempati rumah dinas milik kantor dan sudah kami tempati sejak sebelumaku lahir. Papahku seorang pensiunan dari perusahaan yang sama denganku. Rumah yang ditempati orangtuaku inisudah berganti atas namaku, sehingga mereka masih dengan leluasa tinggaldi rumah itu, padahal orangtuaku inijuga mempunyai rumah yang cukup besar di perumahan mewah di kotaku, tapi mereka beranggapan rumah dinas ini mempunyai nilai historis mereka selama lebih dari dua puluhlima tahun tinggal di sana.Sedangkan aku sendiri telah tiga bulan ini pindah ke rumah sendiri yang lokasinya sekitar lima kilometer dari tempat kerjaku. Awalnya kedua orangtuaku keberatan rencana aku pindah, karenaaku sebagai anak bungsu dan kedua kakakku yang sudah tinggal di rumahnya masing-masing, maka saat ini praktishanya tinggal kedua orangtuaku dan asisten rumah tangga bernama Mpok Ela. Tapidengan alasan ingin hidup lebih mandiri, mau tak mau orangtuaku mengizinkan aku juga.Namaku Rani, usiaku saat inidua puluh empat tahun. Aku bungsu dari tiga bersaudara yang seluruhnya perempuan. Kedua kakakku sudah menikah dan masing-masing-masing mempunyai dua anak. Sedangkan aku sendiri baru diberi anak satu dari satu setengahtahun usia pernikahanku dengan Doni. Anakku bernama Ari, masih berusiatujuh bulan. Doni suamiku,bekerja di perusahaan kontraktor asing. Denganjabatannya sekarang, suamiku sering keluar kota bahkan keluar negeri untuk memantau proyek-proyek yang dikerjakan kantornya, sehingga di rumah aku sering tinggal berempat dengan anak, baby sitter dan asisten rumah tangga.Diantara kakak-kakakku, aku yang paling tinggi. Tinggiku seratus enam puluh delapancentimeter, beratku saat ini lima puluh tujuh kilogram, delapan kilogram lebih berat dari sebelum aku hamil anakku. Kulitku kuninglangsat agak kecoklatan. Kami bertiga mempunyai wajah yang mirip satu sama lain. Kakakku yang kedua, Mbak Risa, yang paling cantik dengan kulitnya yang putih bersih. Akan tetapi diantara mereka hanya akulah yang pernah juara kedua lomba putri kecantikan di kota ini.Setibanya di rumah orangtuaku, kuparkirkan mobilku di depan pagar. Sengaja aku parkir di luar pagar, karena memang aku tidak berniat lama-lama di sini.Aku lihat dari balik pagar ada mobil keluarganya Mbak Risa terparkir di garasi, tapi yang ini biasanya dipakai Mas Rio, suaminya Mbak Risa, karena Mbak Risa ke kantormenggunakanmobil lainnya yang lebih kecil. "Eh Mbak Rani", tiba-tiba ada suara dari dalam pagar. Tidak lama kemudian pintu pagar terbuka, muncul sang pemilik suara yaitu Mpok Ela. Mpok Ela ini sudah lebihdari tiga tahunbekerja di rumah orangtuaku."Ada siapa ajadi dalem Mpok?", tanyaku."Ada Mamah lagi di kamar, Mbak. Kayanya sih lagi tidur. KaloPapah lagi pergi main golf", jawab Mpok Ela."Ngga ada Mbak Risa? Itu ada mobilnya?", tanyaku lagi."Itu bukan Mbak Risa, Mbak. Tapi Mas Rio, itu ada di kamar atas", jawab Mpok Ela lagi."Ooo kirain Mbak Risa", sahutku."Mobilnya ngga dimasukin garasi aja Mba?", tanya Mpok Ela."Ngga usahlah, cumasebentar kok", jawabku sambil tersenyum."Laundry-an aku udah ada belum Mpok? Kalau udah ada, tolong siapin ya Mpok. Mau aku bawa", ucapku lagi."Udah ada Mbak, nanti Mpok siapin. Ngomong-ngomong Mbak Rani mau sekalian makan di sini ngga? Kalau mau, Mpok siapin makanan sekarang", ucap Mpok Ela."Iya Mpok. Aku ke kamar Mamah bentar", jawabku.Akupun segera masuk ke rumah dan menuju kamarMamahku yang ada di lantai bawah. Rumah ini adaenam kamar. Tiga kamar di atas merupakan kamar aku dankakak-kakakkusebelum kami semua berkeluarga. Saat ini tetap tidak ditempati siapapun, karena memang sengaja sebagai tempat jika aku dan keduakakakku main ke sini. Sedangkan di lantai bawah ada tiga kamar lagi yaitu kamar orangtuaku, kamar tamu, dan kamar yang kecil diberikan kepada Mpok Ela.Kubuka pintu kamar secara perlahan, takut membangunkan Mamahku. Tampak di tempat tidur Mamahku tertidur lelap. Aku urungkan niat untuk masuk kamar Mamahku.Akupun menuju ruang makan, terlihat Mpok Ela sibuk menyiapkan makanan untukku."Silahkan MbakRani makan. Mpok tinggal dulu ya. Mau nyetrika. Kalaubutuh apa-apapanggil aja ya Mbak", ucapnya lalu Mpok Ela berjalan menuju bagian belakang rumah. "Ok Mpok, terima kasih", jawabku.Akupun mulai menyantap makan siangku sambil memainkan handphone melihat perkembangan-perkembangan di media sosial.Selesai makan, aku masih berdiam sejenak di meja makan. Tiba-tiba aku teringat kalau ada Mas Rio di kamar atas. Akupun berniat untuk menemuinya sekedar bertanya kabarnya. Kubereskan piring bekas aku makan dan menempatkannya ke tempat cuci piring. Setelah mencuci tanganku, aku pun langsung menuju tangga dan menaikinya menuju kamarMbak Risa dulu.Kamar Mba Risa ini tepat sebelahan dengan kamarku. Dulunya kamar kami inikamar yang besar, akan tetapi seiring pertumbuhan kami, maka orangtuaku membagi dua kamar ini dengan disekat menggunakanmaterial gypsum.Kuketuk pintu kamar Mbak Risa dulu, sambil memanggil Mas Rio pelan. Tidak ada jawaban. Aku buka pintu perlahan. Kulihat Mas Rio tidur terlentang sedikit di sisi kanan tempat tidur dengan posisi tangan dan kaki agak direntangkan ke samping."Mas Rio", kupanggil namanya sekali lagi."Mmmm", jawab Mas Riopelan dengan mata masih tertutup."Lagi ngapain Mas?", tanyaku."Ngewe", jawabnya asal."Yeee orang ditanyain bener juga?!", sahutku."Lagian elo pake nanya lagi, udah tau lagi tidur gini",balasnya."Kalau tidur kok masih ngomong? Ngigo ya? Hehehe", candaku sambil menghempaskan pantatku ke tempat tidur dengan posisi sembilan puluh derajat dari posisi sebelah kiri Mas Rio. Kuambil bantal dan kujadikan tempat sandaran di tembok kamardengan kaki aku luruskan di tempat tidur."Seriusan Mas, ngapain di sini? Kok ngga kerja?", tanyaku sambil kembali memainkan handphoneku."Kaga, lagi izingue. Badan gue pegel-pegel. Udah seminggu lebih lembur terus. Mau istirahat di rumah ngga bisa. Ini juga Risa yang nyuruh gue kesini", jawabnya kulihat tetap dengan mata tertutup."Nah elo sendiri ngapain ke sini? Nyari makan gratisan ya?", tanyanya ngeselin."Siaul, mau ambil laundry-an. Tapi yaa sekalian juga makan gratisan sih. Hehehe", jawabku."Udah kebaca", tanggapnya enteng.Mas Rio pun merubah posisi kaki kirinya denganmenekuknya ke atas. Sehingga membuat ujung celana pendek berbahan parasut hitam yang dipakainya dengan mudahnya turun sampai pangkal pahanya. Dan ini membuat terlihat"makhluk" yangtinggal di selangkangan Mas Rio. Memang kakak iparku sering aku perhatikan tidak pernah pakai celana dalam kalau memang niat perginya hanya ke rumah orangtuaku ini, karena rumah dia dengan rumahorang tuaku tidak lebih darisatu kilometer.Terlihat jelas makhluk itu masih dalam keadaan tidur, dengan kepalanya sedikit serongke kiri bersandar di kantong telurnya. Degh, jantungku langsung berdegub kencang, darahku pun berdesir, karena secara otomatis memori kenikmatan itu berputar di kepalaku teringat kejadian satu setengah tahun lalu. Pikiranku melayang mengingat kembali bagaimana kenikmatan yang pernah diberikan makhluk itu kepadaku pada saat dia mengamuk dan marah mengoyak-ngoyak sarang kenikmatanku.http://46.166.167.16/threads/its-not-all-about-sex.1242643/Masih teringatjelas di otakkubentuk penis Mas Rio. Secara ukuranmemang tidakberbeda dengan milik Doni, suamiku. Tetapi bentuknya yang unik membuat indera kenikmatanku tidak akan melupakannya. Pada saat ereksi kepala penisnya yangbesar dan mengembang seperti kapala jamur, mengecil dan seperti ada sekat di leher penis, membesar di batang penis, dan mengecil kembali di pangkal penis.Tapi yang tak mungkin aku lupa adalah urat-urat menonjol pada batang penisnya yangmembuat aku merinding nikmat saat penis Mas Riomemompa vaginaku. Dinding vaginaku seperti digaruk-garuk oleh penisnya.Ukh, mengingatnyaaja udah membuat vaginaku basah saat ini.Keinginanku untuk menikmati penis Mas Riotimbul kembali. Tapi bagaimana caranya? Aku malu kalau harus memulai lebih dahulu. Sedangkan menurutku saat ini situasiyang mendukung untuk melampiaskankerinduanku pada penis Mas Rio."Gimana kabarAri? Udah bisangapain aja?", tanya Mas Riomembuyarkanlamunanku."Baik-baik aja Mas. Yaa standar bayi umur tujuh bulan lah, udah bisa duduk sama ngoceh-ngoceh gitu", jawabku."Trus elo sendiri gimana? Udahngga pernah kumat lagi?", tanya Mas Riokembali."Kadang-kadang aja sihMas tapi masih bisa aku kontrol kok. Mungkin karena sibuk ngurusin Ari, jadi ngga ada waktu buat mikir yang aneh-aneh lagi hehehe", jawabku."Sibuk ngurusin anak, bisa jadilupa ngurusin laki lo deh hehehe," candanya."Nggalah Mas,tetep kalo itu mah, kan kebutuhan. Hehehe", sahutku sambil tersenyum penuh arti."Masih sering emang? Paling banter juga sebulan sekali. Apalagipunya bayi", lanjut Mas Rio."Curhat ya Mas?", godaku."Hahaha", tawanya menanggapi komentarku."Kaya elo ngga aja. Kalo gue sih minimal seminggu sekali", lanjut Mas Rio."Iya sih hehehe", jawabku sambil nyengir."Emang udah berapa lama ngga?", selidikMas Rio."Kalo itu mah hampir tiap minggu Mas. Tapi ya ituu..", jawabku menggantung."Itu apa?", tanyanya penasaran."Udah ngga pernah ngerasain sampe orgasme lagi sejak ngelahirin, Mas hehehe", jawabku malu."Udah dol kali meki lo, dokternya lupa jahit", sahutnya ngeselin. Aku balas melempar bantal di dekatku ke arah mukanya.Diapun tertawa lepas sambil menepis bantal yang aku lempar."Pantesan aja daritadi elo ngeliatin selangkangan gue terus hehehe", sahutnya sambil cengarcengir."Yee enak aja, ngga dilihatin juga udah nongol sendiri. Tuh udah bangun, jadi ketauan kan Mas kepengen", balasku."Walaah, iya ya hehehe", sahutnya santai.Penis Mas Riosudah berdiri tegak, menyeruak dari ujung celana pendeknya, tegak sejajar dengan paha kiri Mas Rio yang masih ditekuk ke atas."Trus kalo udah gini enaknya diapain ya?", godanya."Disuruh duduk aja Mas, kasian berdiri terus", jawabku pura-pura tak acuh."Yuk lah", sahut Mas Rio.Kulirik jam di tangan kiriku. Jam satu kurang lima menit. Masih ada cukup waktu."Quickie aja ya Mas", jawabku.Segera kugeser posisiduduk ke samping kiri Mas Rio. Langsung kubelai penis Mas Rio memakai sisi luar jari telunjuk kiri mulai dari kepala penis sampai pangkalnya. Penis Mas Rioberkedut-kedut bereaksiterhadap belaianku. Kulihat nafas Mas Rio mulaimemburu menikmati aktifitasku memainkan penisnya. Sekitar penis dan buah zakar Mas Rio ditumbuhi rambut. Tidak terlalu lebat, tampaknya Mas Rio rajin merawat rambut kemaluannya. Sedangkan panjangnya sekitar empat belas sentimeter, dengan diameter sekitar tiga sentimeter di bagian kepala,membengkak menjadi tiga setengah sentimeter di tengah batangpenisnya, dan mengecil di pangkal penisnya sekitar dua setengah sentimeter. Tentunya dengan dihiasi tonjolan-tonjolan urat di batang penisnya bagaikan terpasang butiran mutiara di balik kulitnya.Kemudian akumemposisikan diriku di antara kedua kaki Mas Rio yang sudah dalam posisi membuka lebih lebar siap menerima pelayanan dariku. Aku berbaring telungkup dengan menopang tangan kiriku untuk menjaga kepalaku tetapberada di atasdekat penisnya. Tangan kananku mulaimengocok perlahan penis Mas Rio. Terasa di telapak tanganku tonjolan-tonjolan urat di batang penisnya, membuat aku semakin bergairah. Terasa dadaku makin sesak, putingku makin mengeras. Ditambah lagi aku baru menyadari kalau ASI-ku belum dipompa sejaktadi pagi.Kudekatkan kepalaku ke penis Mas Rio. Kujulurkan lidahku ke lubang kencingnya. Kumainkan lidahku di sana sambil tangan kananku tetapmengocok penisnya. Keluar dari lubang penisnya cairan kental bening pertanda penis Mas Riosiap untuk membuahi, lalu kusapu cairan itu dengan lidahku. Perlahan mulai kujilati kepala penis Mas Rio, kusapu seluruh kepalapenisnya yangsudah mulai merah merekah. Nafas Mas Riomulai tidak teratur.Setelah puas bermain dengan kepalapenisnya, lidahku mulai menjilati area bawah batangpenis Mas Rio. Kujilat dari pangkal penis bagian bawah sampaikepala penis bawah, terus berulang bagaikan menjilati es krim kesukaanku, sambil tangankananku memainkan buah zakarnya.Beralih ke buah zakarnya, kusapu seluruh kulit pembungkus buah zakarnyayang sudah mengkerut kencang, kemudian aku kulum dan kuhisap salah satu buah zakarnya, membuat MasRio mendesah. Terus kukulum dan kumainkan dengan lidahku buah zakar Mas Rio.Tak sampai di situ, aku mulaiperlahan menjilati ruang antara kantung buah zakar dengan lubang anusnya. Lalu kumainkan lidahku menyapu lubang anusnya. Serangan ini sukses membuat MasRio kelojotan sambil memekik pelan, "aach gila, belajar dimana lo?!". Aku pun tersenyum nakal kepadanya. Kulanjutkan seranganku itu sambil tangan kananku tetapmengocok badan penisnya. Kujilat memutari lubang anusnya dengan lidahku, dilanjutkan ke ruang antara lubang anus dan kantung buah zakarnya, lalu kembali lagi kumainkan ujung lidahku di lubang anusnya.Kuposisikan kembali mulutku di kepala penisnya. Kumasukkan sebatas kepala penis ke mulutku sambil kugenggam pangkal penisnya. Kumainkan lidahku di kepala penisnya. Kemudian mulai kumasukkan batang penis Mas Rio sampai mentok di tenggorokanku membuatku hampir tersedak. Agak susah payah aku pada saat mencapai setengah batang penisnya, karena ukurannya yang lebih besar dari kepalanya, berusaha supaya gigiku tidak mengenai batang penisnya.Dengan posisiseperti itu, air liurku pun keluar dari mulutku tanpabisa kubendung. Kumulai mengocok penis Mas Riodengan mulutku. Kuatur ritme mengocokku dan semakin terasa keras dan membesar penis Mas Rio. Kuhisap dengan ganas, kemudian kumainkan lidahku dengan tetap kepala penisnya berada di dalam mulutku. Terus dan terus tanpa henti kuhisap dan kukocok penis Mas Rio, membuatku vaginaku semakin basah dan gatal minta segera dimasuki batang kenikmatan ini."Jago juga ya si Doni ngedidik elo sampe jago nyepong gini",sahutnya sambil mendesah takkaruan. Akupun membalas dengan tatapan nakal kepadanya sambil kucubit bagian dalam paha kanannya."Udah udah, kalo gini terus bisa jebol pertahanan gue", sahutnya sambil sedikit menarik kepalaku untuk melepaskan penisnya dari mulutku. Aku terkekeh mendengarnya, merasa senang bisa membuat MasRio kelojotan.Kemudian akupun bangkit, menyingkap rok warna biiru tua seragam kantorku ke atas dan melepaskan celana dalamku yang sudah basah oleh cairan kenikmatan dari vaginaku. Kulempar celana dalamku ke wajahnya, dia pun terkejut melihat aksi nakalku. Langsung kutimpa badannya dankusergap bibirnya dengan ganastanpa memberi kesempatan padanya untuk menghilangkan keterkejutannya.Disambutnya seranganku dibibirnya. Kamipun saling berpagutan ganas. Lidah kami bermain bebas di rongga mulut bergantian.Penis Mas Riodan bibir vaginaku pun saling bersentuhan. Saling bergesekan liar mengikuti irama goyangan tubuh masing-masing. Diremas-remasnya payudaraku tanpa membuka bajuku dan bra-ku dengantangan kanannya, sementara tangan kirinya memeluk diriku sambil mengusap-udap punggungku.Tangan kananku melesat ke bawah mencari batang kenikmatan yang sudah berdiri tegak menantang. Tangan kananMas Rio pun tak mau ketinggalan, dia mulai memainkan klitorisku dengan jari tengahnya dengan sesekali menusuk ke dalam bibir vaginaku membuat gairahku semakin liar. Ditusuknya berulang-ulang dengan jarinya, vaginaku pun semakin basah oleh cairan kenikmatanku.Aku tuntun penis Mas Riomenuju bibir vaginaku yangsudah terbukaakibat tusukkan jari Mas Rio. Terasa hangatsaat kepala penis Mas Riomenempel di bibir vaginaku.Perlahan-lahan kumasukan batang kenikamatan itu ke lubang senggamaku. Namun kuhentikan saat sudah setengah penis Mas Riomasuk ke dalam vaginaku, karena sudah terasa sesak bibir vaginaku oleh pertengahan batang penisnya. MasRio membantuku dengan menggoyang ringan pinggulnya agar bibir vaginaku bisa menelan seluruh batang penisnya."Sakit?", tanyanya."Ngga Mas, lemes aja ini penuh banget", jawabku terengah-engah.Kuatur nafasku sebelum menerima hujaman penuh penis Mas Rio. Dengan menggunakangaya berat tubuhku, kudorong penis Mas Riomasuk sepenuhnya ke dalam liangsenggamaku."Aach", pekik ku dan aku terkulai lemas di atas tubuh Mas Rio saat batang gemukpenisnya menerobos bibir vaginaku dan kepala penisnya menubruk mulut rahimku. Ini belum seluruhnya penis Mas Rioada di dalam liang kenikmatanku,masih ada sekitar dua atau tiga sentimeter lagi dari pangkal penisnya.Kami pun diam sejenak untuk menunggu vaginaku terbiasa oleh penis Mas Rio. Ini dimanfaatkan Mas Rio untukkembali menciumku dengan nafsunya, sambil tangankanannya mengelus-elus punggungku. Ini yang aku suka dari Mas Rio, dia selalu berusaha membuat aku nyaman dan memperlakukanku dengan kasih sayang pada saat melakukan aktifitas seksual. Tidakhanya berlandaskan nafsu belaka. Ini yang belum aku dapatkan dari Doni, suamiku.Perlahan-lahan Mas Rio menggoyangkan pinggulnya, membuat gesekan-gesekan kecil antara batang penisnya dengan dinding senggamaku, alhasil cairan vaginaku pun kembali banyak keluar.Makin lama goyangan dan ayunannya semakin keras dan jauh. Aku pun mengimbangi dengan goyangan pinggulkumengikuti irama goyangannya, membuat vaginaku semakin gatal dan nafsuku semakin mengganas.Aku pun bangkit dan menduduki pangkal paha Mas Rio. Aku goyangkan pinggulku ke depan dan ke belakang sambil sesekali mengayun ke atas dan ke bawah mengikuti irama nafsuku yang makin memuncak. Kedua tangan Mas Rio mulai meremas-remas kedua payudaraku yang berukuran tiga empat b. Kubuka tiga kancing teratas baju seragam putihku. Terlihat olehnya bra khusus menyusui warna krem yang aku pakai. Bra ini terdapat kait yang bisa membuka bagian depannya agar ibu yang masih menyusui bisa langsung menyusui anaknya tanpa repot melepas bra yang dipakai.Bagian depan bra sudah basah oleh cairanASI-ku, akibat diremas-remas Mas Rio dan karena isinya belum aku pompa untuk anakku. Diusap-usapnya putingku yang mengeras tanpa melepas tutup bra. Kemudian dibukanya kait penutup depan bra, dan terlihatlah puting payudaraku yang berwarna coklat dan sedikit menonjol, dengan tetesan ASI yang siap jatuh. Putingku ini masih tergolong kecil untuk kalangan ibu menyusui. Anakku pun terkadang masih kesulitan menghisap ASI langsung dari payudaraku.Tiba-tiba Mas Rio bangkit dan langsung menghisap putingku sebelah kanan, sambil dimainkannya putingku yang sebelah kiri dengan jari kanannya. Dimainkannya putingku dengan ujung lidahnya, dan dihisapnya putingku sampai keluar ASI seperti bayi besar yang haus, haus akan seks tentunya. Suamiku pun tidak pernah seperti ini. Maaf ya nak, kamuharus berbagi ASI dengan pakdemu."Ooh ooh terus Mas", desahku yang tak bisa kubendung lagi. Serangan atas bawahini praktis membuat desahanku semakin keras. Mendengar desahanku yang semakin menjadi, Kedua tangan Mas Rio pun mulai berada di bongkahan pantatku, membantuku menggoyangkan vaginaku diatas penisnya.Semangat menggebu-gebu untuk merasakan nikmat ini menghabiskan energiku dan membuatku lemas tak berdaya. Aku pun menghentikan goyanganku dan kepalaku tertunduk lemasdi bahu kiri Mas Rio."Capek Mas", sahutku."Yaudah gantian. Doggy aja yuk. Kayanya kita belum pernah deh. Tapi jangan dilepasya", pinta Mas Rio."Iya Mas", jawabku.Badan Mas Rio langsung agak mundur sedikit, memberikan aku ruang untuk memutar badanku ke posisi reverse cowboy dengan penis Mas Rio masih menancap di vaginaku. Sungguh sensasi yang luar biasa di vaginaku pada saat melakukan gerakan itu. karena saat memutar, aku kehilangan tumpuanku di lututku sehingga aku langsung mendudukipangkal paha Mas Rio dan otomatis membuat penisnya menusuk semakin dalam mendesak mulut rahimku.Setelah dalam posisi reverse cowboy, perlahan aku membungkukkan badanku untuk menuju posisi doggy, diikuti gerakanMas Rio yang menyesuaikan gerakanku. Aku bertumpu pada kedua lenganku dan kedua lututku, sehingga posisi pantatku lebih tinggi dari kepalaku. Kulihat Mas Rio mengatur posisi dengan bertumpu pada lutut kiri dan kaki kanannya ditekuk berada di samping kananku.Mas Rio mulai mengayunkan penis perlahan ke dalam vaginaku. Gerakannya semakin lama semakin cepat. Cairan vaginaku pun semakin banyak keluar. Gesekkan dinding vaginaku dengan batas batang penisnya yang berurat membuat desahanku semakin menjadi. Aku merasa seluruh dinding vaginaku seperti digaruk-garuk oleh benda besar dan hangat. Ditambah lagi tusukan Mas Rio membuat seluruh batang penisnya masuk ke dalam vaginaku dan mendesak-desak menubruk mulut rahimku semakin dalam dan berulang-ulang.Bunyi pangkal paha Mas Rio beradu dengan pantatku semakin kencang terdengar. Tangan kiri Mas Rio meremas-remas payudara kiriku yang mengayun mengikuti efek goyangan yang ditimbulkantusukan-tusukan penis Mas Rio.Tiba-tiba aku merasa ada sentuhan menggelitik di sekitar lubang anusku. Rupanya Mas Rio memainkan jempol kanannya mengusap-usap area lubang anusku. Perlahan tapi pasti, usapan-usapan itu berubah menjadi tusukan-tusukan kecil di luar lubang anusku. Dan tidak menunggu lama, satu ruas jempol kanan Mas Rio sudah berada di dalam lobang anusku. Membuat pertahananku semakin melemah.Mas Rio kembali mempercepat irama goyangannya, diiringi permainan tangan kirinya di putingku, dan satu ruas jempol kanannya berada di dalam anusku. Mendapat serangan bertubi-tubi seperti itu, pertahananku akhirnya kandas sudah. Aku mendesah semakin kencang dan sampailah aku di kenikmatan puncak dunia. Badanku mengejang dan seperti melayang, vaginaku berkedut dan semakinkencang meremas penis Mas Rio, diiringi keluarnya banyak cairan kenikmatan dari vaginaku, membuat batang penis dan pangkal penis Mas Rio basah kuyup.Aku sudah tidak kuat lagi bertumpu pada kedua lenganku, kepalaku pun ikut menopang berat tubuh atasku saking lemasnya. Melihat hal ini, Mas Rio bukannya berhenti malah membuat goyangannya semakin jadi. Aku merasa Mas Rio sebentar lagi akan orgasme, sangat terasa penisnya yang makin kaku dan berkedut-kedut.Benar saja, tidak lama kemudian terasa semprotan sperma Mas Rio menghujam mulut rahimku. Semprotan cairan hangat itu terasa sekitar lima sampai enam kali semprotan didahului dengan kedutan di batang penis Mas Rio. Mas Rio pun mengejang dan mengerang kenikmatan, sampai-sampai membuat remasan tangan kirinya sangat kencang di payudara kiriku.Tubuh Mas Rio pun ambruk di punggungku. Kemudian dia menciumku dan memainkan lidahnya di mulutku. Aku membalas ciumannya. Aku merebahkan tubuhku dalam posisi tengkurap dengan tubuh Mas Rio masih di punggungku dan penisnya masih menancap di vaginaku.Tangan kanan Mas Rio membelai lembut rambutku, sambil sesekali bibirnya menciumi leher dan punggungku, digenggamnya tangan kiriku dengan tangan kirinya. Kurasakan penis Mas Rio melemas perlahan-lahan di dalam vaginaku. Aku sangat menikmati momen seperti ini. Momen seperti inilah yang membuat diriku sangat spesial, momen dimana kurasakan kasih sayang sesungguhnya, merasakan diperlakukan seperti wanita seutuhnya. Ini yang selalu kurindukan dari Mas Rio. Ah kenapa Mba Risa bisa seberuntung itu, gumamku."Enak?", tanya Mas Rio menggodaku."Akhirnya aku bisa ngerasain kaya gini lagi", sahutku."Maksudnya bisa orgasme lagi atau bisa ngewe sama gue lagi?", godanya lagi."Dua-duanya Mas", jawabku tersenyum."Kira-kira bisa ngga Mas aku orgasme lagi kalo ngeseks sama Doni?", tanyaku."Bisa kok. Ini masalah dipikiran elo aja. Ngga rileks. Pasti waktu elo ngewe, kepikiran nnti anak lo bangunlah, itu lah, inilah. Makanya kl mau, sediain waktu elo berdua khusus buat ngewe. Misal sesekali elo berdua booking hotel cuma buat ngewe aja. Kan ada tuh hotel yang jam-jaman hehehe", jawab Mas Rio."Kalo ke hotel mah mending sama Mas Rioaja hehehe", sahutku."Bener yaa? Asyiiik", jawabnya dengan logat anak kecil."Udah ah Mas, udah jam setengah dua kurang. Takut dicariin orang kantor. Aku bersih-bersih dulu ya", sahutku.Mas Rio pun bangkit dari punggungku danmerebahkan tubuhnya disamping kiriku."Aduh, pelan-pelan Mas", protesku saat tercabutnya penisnya dari vaginaku. "Maaf maaf, ngga ngeh kalo masih nyangkut hehehe", jawabnya.Aku bangkit, dan mencari celana dalamku. Bisa bahaya kalo ditemuin ada celana dalam bekas aku pakai ada di kamar ini.Sebelum keluar kamar, kusempetkan mencium mesra bibir Mas Rio. "Terima kasih ya Mas", ucapku. "You'r welcome", jawabnya tersenyum.Aku pun keluar kamar menuju kamar mandi di lantai ini. Selesai dari kamar mandi, aku menuju kamar yang dulu aku tempati, untuk mencari celana dalam yang akan aku pakai, karena celana dalam yang aku pakai sudah aku bilas tadi di kamar mandi. Di kamar ini pun aku merapikan kembali penampilanku seolah-olah tidak terjadi apa-apa.Kemudian aku ke lantai bawah. Kulihat di bawah masih sepi. Aku menuju ruang belakang untuk menaruh celana dalam bekas kupakai ke dalam keranjang cucian, dan telihat Mpok Ela sedang membereskan baju yang telah disetrikanya."Itu Mba Rani laundry-annya ada di ruang tamu tinggal bawa aja", sahut Mpok Ela."Ok terima kasih Mpok", jawabku.Aku sempatkan untuk melihat apakah Mamahku sudah bangun atau belum. Kubuka pintu kamar orang tuaku dan terlihat Mamah masih tertidur lelap. Aku pun memutuskan untuk langsung ke kantor. Toh kalau ada apa-apa juga Mamahku bisa langsung telepon aku dan aku bisa langsung ke rumah ini lagi.**Dengan bersenandung kecil, aku menuju gedung gedung kantorku. Di lobby, aku berpapasan dengan Mba Dewi."Abis dapet apaan nih Rani, kayanya ceria amat? Beda dari sebelum berangkat tadi", sapa Mba Dewi."Addaa deehh. Abis dapet sesuatu yang spesial pokoknya deh", jawabku sambil tersenyum.***
ASI-ku untuk Mas Rio
Reviewed by zonacrots
on
Oktober 26, 2017
Rating:
Tidak ada komentar: